Jurnal Perencanaan Reklamasi
Jurnal
Tugas Akhir – Teknik Sipil UNLAM 2013
PERENCANAAN REKLAMASI LAPANGAN PENUMPUKAN
PETI KEMAS
STUDI
KASUS : PELABUHAN TRISAKTI, BANJARMASIN
Oleh :
Reggy Surya Anjasmara
Pembimbing :
Muhammad Afief Ma’ruf, MT
ABSTRAK
Pelabuhan Trisakti yang terletak di Banjarmasin
memiliki dermaga yang menangani bongkar muat barang ekspor dan impor dengan
menggunakan peti kemas. Peningkatan kunjungan kapal membuat lambat laun
memerlukan tambahan lahan maupun perluasan untuk area lapangan penumpukan peti
kemas yang akan digunakan sebagai aktifitas bongkar muat barang yang masuk
maupun keluar.
Berdasarkan
hasil analisa perhitungan kapasitas dermaga petikemas dari data tahun 2003-2014
tidak mampu menampung peningkatan arus kunjungan kapal, dengan maksimum unit
sebanyak 991 unit. Melalui metode pendekatan dan analisa data muncul ide untuk
merencanakan reklamasi tanpa harus mengalihfungsikan dermaga konvesional yang
sudah ada.
Hasil
dari perhitungan perencanaan untuk 35 tahun yang akan datang dengan membuat
lahan baru (reklamasi) lapangan penumpukan peti kemas seluas 100x 100 meter
didapatkan penurunan tanah sebesar 0,552 meter untuk derajat konsolidasi 90%
dalam waktu 95,2 tahun. Untuk mempercepat terjadinya pemampatan didesain PVD
dengan jenis Ccteau Drain CT-D812 Produksi PT. Teknindo Geosistem Unggul dengan
jarak 2 meter pola sigitiga. Dengan pemasangan PVD tersebut didapatkan U90% =
22 minggu (8,5 bulan).
Kata
kunci : Pelabuhan trisakti, peti kemas, konsolidasi, Vertical
Drain, Pre-loading.
1.
PENDAHULUAN
Reklamasi
berasal dari kosa kata dalam Bahasa Inggris yaitu to reclaim yang
artinya memperbaiki sesuatu yang rusak. Lebih lanjut dijelaskan dalam Kamus
Bahasa Inggris-Indonesia Departemen Pendidikan Nasional, disebutkan arti reclaim
sebagai menjadikan tanah (from the sea). Arti kata reclamation
diterjemahkan sebagai pekerjaan memperoleh tanah.
2.
PERMASALAHAN
Di
pelabuhan Trisakti ini kapal melakukan berbagai kegiatan seperti
menarik-turunkan penumpang, bongkar muar barang, pengisian bahan bakar,
melakukan perbaikan, mengisi perbekalan dan sebagainya. Untuk bisa melaksanakan
berbagai kegiatan tersebut pelabuhan harus dilengkapi fasilitas seperti pemecah
gelombang, dermaga, peralatan tambatan, peralatan bongkar muat barang,
gudang-gudang, halaman untuk menumpuk barang, perkantoran, perlengkapan
pengisian bahan bakar dan lain sebagainya. Dari data divisi PT PELINDO III,
terlihat bahwa peningkatan aktifitas bongkar muat semakin tinggi. Hal ini
sejalan dengan terus berkembangnya Kota Banjarmasin sebagai ibu kota Kalimantan
Selatan. Terminal petikemas Banjarmasin memiliki aktifitas bongkar muat yang
padat. Meskipun dengan fasilitas alat berat yang mendukung, namun masih kerap
terjadi penumpukan kapal di tambatan. Hal ini dikarenakan area terminal
petikemas yang kurang luas. Sehingga pada saat air pasang (-7 MLWS),
produktifitas bongkar muat kurang maksimal (Siti Maulidah, 2015).
Dari
fakta yang terjadi dilapangan, maka muncullah ide untuk merencanakan perluasan
terminal peti kemas, dengan menambah area lahan reklamasi. Dengan diadakannya
reklamasi dimungkinkan tersedianya lahan baru yang telah ditimbun untuk
melakukan suat proyek pembangunan. Melihat ketersediaan lahan yang minim maka dilakukan perluasan
lahan ke arah pesisir pelabuhan dengan melakukan reklamasi. Dari data tiap
tahun dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan penambahan luas rencana
area pada dermaga, dan juga kapasitas lahan petikemas beberapa tahun kedepan,
agar kinerja di pelabuhan aman dan lancar terkendali.
3.
METODOLOGI
Pada
perencanaan reklamasi ini mula-mula adalah mempelajari
buku-buku atau literatur-literatur, pengumpulan dan alaisis data, lalu
dilaksanakan perencanaan geoteknik, perencanaan timbunan (preloading), setelah
didapatkan pen urunan akibat beban timbunan dilanjutkan dengan perhitungan
pemampatan, hingga didapatkan besar dan waktu pemampatan.
Cek
apakah waktu cukup untuk mencapai penururnan, jika tidak maka dilakukan dengan
metodee preloading dan PVD, kemudian cek angka keamanan, jika sudah dinyatakan
aman maka dilanjutkan dengan perhitungan stabilitas, jika belum maka dilakukan
perkuatan tanah.
4.
PERHIUTNGAN
KONSOLIDASI
4.1. Analisa Besar
Penurunan
Data
tanah adalah
data tanah sekunder. Didapatkan tebal lapisan compressible (H) yang diperhitungkan adalah yang masih bisa mengalami konsolidasi primer (N-SPT < 10 dan qc < 40 kg/cm2).
Sebagai pendekatan antara nilai qc dan NSPT, Meyerhof menyarankan :
qc = 4 N (kg/cm2)
sehingga
berdasarkan data tanah tersebut lapisan compressible adalah sekitar 31.5 m
dengan jumlah pukulan sebanyak 8 kali.
Membagi lapisan dengan ketebalan lebih tipis. Pembagian
lapisan ini bisa dilakukan tiap 0.5 meter-an 1 meter-an ataupun 3 meter-an
tergantung perencanaan. Pembagian lapisan ini dimaksudkan untuk mendapatkan
harga settlement yang lebih teliti.
Dalam perencanaan ini, perencana membagi layer per 3 meter.
Perhitungan untuk mendapatkan Po’pada lapisan
pertama,
h =
3 meter
z = 1,5 meter
= 1,9 – 1
= 0,9 ton/m3
= 0,9 x 3
= 2,7 ton/m2
DPf =
tambahan tegangan yang terjadi pada tanah akibat adanya beban di waktu
lampau atau karena flukuasi muka air tanah. Didapat dari data konsolidasi
dengan nilai sebesar 2,7
ton/m2, Jadi
Pc’ = Po + 2DPf
= 2,7 +(2 x 2,7) = 8,1 ton/m2.
Dp = qo/p [{(B1+B2)/B2}(a1+a2) -B1/B2(a2)]
dimana :
qo =
beban timbunan (t/m2) Ã qo
= gtimb x htimb
Dp = besarnya tegangan akibat pengaruh beban
timbunan ditinjau di tengah-tengah lapisan (t/m2)
a1 =
tan-1 {(B1+B2)/z} - tan-1 (B1/z)
(radian)
a2 = tan-1 (B1/z) (radian)
B1 = ½
lebar timbunan
B2 =
panjang proyeksi horisontal kemiringan timbunan
Misal
htimb = 3
meter; g timb = 1,8 ton/m3; lebar timbunan = 88 m dan kemiringan talud 1:2, maka harga DP pada lapisan pertama adalah :
z = 1,5 meter
B1 = 44 meter
B2 = 6 meter
a1 = 0,23 o
a2 = 88 o
qo = 1,8 x 3 m
= 5,4 ton/m2
Dp = 2,7 ton/m2
Harga
tersebut akibat beban ½ timbunan; untuk timbunan total yang simetris maka harga
tersebut harus dikalikan 2 kalinya, sehingga :
2Dp = 2 x 2,7
= 5,40 kN/m2
Perhitungan
besar konsolidiasi Misal
htimb = 3 meter; g timb = 22 kN/m3; lebar timbunan =
60 m dan kemiringan talud 1:2, maka harga Sc pada lapisan 1 meter pertama
adalah :
Misal :
Cc =
0,59
Cs =
0.147
eo = 2,180
Dari hasil perhitungan
di atas :
P’o = 2,7 ton/m2
Pc’ = 8,1 ton/m2
DP = 2,7 ton/m2
P’o + 2DP =
8,1 ton/m2
Karena P’o + DP
< Pc’ maka digunakan rumus kedua, sehingga :
Sci =
Hi = 0,056 meter
Mencari settlement total Tebal lapisan tanah
lembek yang mengalami settlement adalah 31,5 m, maka settlement total merupakan
penjumlahan dari settlement setiap lapisan, yaitu sebesar 0,234 meter (31,5
lapisan @3 meter). Hasil perhitungan
settlement terlihat pada tabel 4.1.
Menentukan H-inisial
Perhitungan
:
Pada
timbunan dengan tinggi (htimb) = 3 meter dari perhitungan sebelumnya
didapatkan :
htimb = 3 meter
gtimb = 1,8
ton/m3
gsat timb =
1,8 ton/m3
gw = 1
ton/m3
qfinal =
5,4 ton/m2
Sc =0,234 meter
= 3,130 meter
Hfinal = Hinisial - Sc
= 3,130 – 0,234
= 2,9 meter
Mencari Hfinal dengan
ketinggian timbunan yang bervariasi
Hasil
perhitungan bisa dilihat pada Tabel 4.5.



Menentukan
Hinisial dan Sc perencanaan Dengan menggunakan hasil dari tabel 4.5
maka :
Hfinal = 9 meter
Hinisial
Sc 
Mencari Hcr dengan Cu awal
4.2. Perhitungan waktu
konsolidasi
Perhitungan waktu
konsolidasi untuk Uv= 90% dari data sebelumnya didapatkan :
Hfinal = 8,8 meter
Hinisial = 9,307 meter
Sc =
0,552 meter
Tabel 4.6: Data Tanah Compressible
No.
|
Cv
|
Tebal lapisan
|
z
|
γsat
|
eo
|
Cc
|
cm2/sec
|
(m)
|
(m)
|
KN/m3
|
|||
1
|
0.028
|
3
|
1,5
|
1,9
|
2,18
|
0,59
|
2
|
0.028
|
6
|
3
|
1,9
|
2,113
|
0,593
|
3
|
0.028
|
9
|
4,5
|
1,6
|
2,018
|
0,628
|
4
|
0.028
|
12
|
6
|
1,7
|
2,139
|
0,635
|
5
|
0.028
|
15
|
7,5
|
1,8
|
2,138
|
0,616
|
6
|
0.028
|
18
|
9
|
1,9
|
2,156
|
0,618
|
7
|
0.028
|
21
|
10,5
|
2
|
1,587
|
0,573
|
8
|
0.028
|
24
|
12
|
2
|
2,191
|
0,584
|
9
|
0.028
|
27
|
13,5
|
1,6
|
2,099
|
0,633
|
10
|
0.028
|
30
|
15
|
1,7
|
2,139
|
0,655
|
11
|
0.028
|
31,5
|
15,75
|
1,8
|
2,139
|
0,655
|
Dari Tabel 4.6 di atas ditentukan :
· Lapisan
bagian bawah dari lapisan compressible bukan
merupakan lapisan porus, sehingga arah alirannya adalah single drainage.
· Tebal
lapisan compressible (Hdr)
= 31,5 meter
· Harga
Cv rata-rata

· Harga
Tv
Harga Tv diambil
berdasarkan Tabel 4.7
Derajat
Konsolidasi
|
Faktor Waktu
|
U%
|
Tv
|
0
|
0
|
10
|
0.008
|
20
|
0.031
|
30
|
0.071
|
40
|
0.126
|
50
|
0.197
|
60
|
0.287
|
70
|
0.403
|
80
|
0.567
|
90
|
0.848
|
100
|
~
|
Dari table di atas
untuk derajat konsolidasi U90% didapat Tv = 0.848
·
Waktu konsolidasi (t)
Berdasarkan
analisa waktu konsolidasi (t) di atas, waktu yang dibutuhkan untuk
menghilangkan consolidation settlement adalah 9.52
tahun, sehingga diperlukan upaya untuk membantu mempercepat proses konsolidasi,
yaitu dengan pemakaian PVD.
4.3. Kecepatan penurunan tanpa Vertical Drain
Total settelement = 0,552 m
T =
Cv x t
(Hdr)2
U = (4Tv/p)1/2 x 100%
Umur rencana area = 88 tahun dengan, Hfinal = 8,8 meter
H initial
= 9,307 m
g timb
= 1,8 ton/m3
q =
16,2 t/ m2
Sc = 55,2 cm
Ï€ = 22/7


5.
SOLUSI
5.1. Perencanaan Vertikal Drain
Data Spesifikasi
Bahan
PVD
(Prefabricated Vertical Drain) Jenis PVD yang digunakan pada perencanaan ini
adalah Ccteau Drain CT-D812 produksi PT. Teknindo Geosistem Unggul dengan
spesifikasi:
-
weight = 70 g/m
-
width = 100 mm
-
thickness = 3 mm
![]() |
PHD (Prefabricated Horizontal Drain) Jenis PHD yang digunakan pada perencanaan ini adalah Ccteau Horizontal Strip Drain CT-SD100-20 produksi PT. Teknindo Geosistem Unggul dengan spesifikasi:
- weight = 80 g/m2
- width = 100 mm
- thickness = 30 mm
Polypropylene Woven
Geotextiles Jenis woven geotextile yang
digunakan pada pekerjaan perkuatan lereng timbunan tanah adalah Polypropylene woven geotextiles
UW-250. Dengan kuat tarik maksimum = 52
kN/m
Perhitungan Pemampatan Timbunan Menggunakan PVD
Tipe membradrain
Lebar (a) = 10 cm = 0,1 m
Tebal (b) = 0,3 cm = 0,003 m
Dipasang dengan pola susunan segitiga
dengan kedalaman dengan variasi jarak 0.8 m ; 1.0 m ; 1.25 m ; 1.5 m ; 2.0 m
D
= 1.05 x S
Dw
= [2 (a+b)]/Ï€
F(n) = ln (
D/dw ) -
3/4
Dimana : F(n) = Faktor hambatan disebabkan karena jarak
antara PVD
S =
Jarak antar PVD

*Contoh
perhiitungan :
S =
2.00 m
D =
2.100 m
F(n) =
2.70
Cv = 0.028 cm2/s
= 1.69344 m2/minggu
Ch =
→ berkisar (2.5) Cv
→ dipakai Ch = 2
Cv
= 2
1.69344
m2/minggu
= 3.3868 m2/minggu
Di mana 
Untuk nilai Uv > 60 %:
Uv
= (100 – 10a)%
di mana: a = (1,781 – Tv) / 0,933
Jarak pemasangan PVD (S)
S =
0,8 m
S =
1 m
S =
1,25 m
S =
1,5 m
S =
2 m

Rumus Utotal = [1 – (1 – Uh) x (1 – Uv) x 100%

![]() |




Maka, direncanakan jarak
pemasangan PVD adalah 2 meter maka didapatkan U90%= 22 minggu (8,5
bulan).

Menentukan Kedalaman PVD
Panjang
PVD yang dipasang hanya sampai pada tebal lapisan compressible (H) yang diperhitungkan adalah
yang masih bisa mengalami konsolidasi primer (N-SPT < 10 dan qc < 40
kg/cm2), sehingga berdasarkan data tanah
tersebut lapisan compressible adalah sekitar 31.5m.
Perhitungan
Konsolidasi Tanpa Pemakaian PVD, Apabila Digunakan Perkerasan Dengan Concrete Setebal 22 cm
Data beban :
·
qL = akibat
petikemas
= 4,9 t/m2
·
qD = akibat
concrete 22 cm
= (0,22 m x 2,4 t/m3)
= 0,528 t/m2
·
qT = qL + qD
= 5,428 ton/m2
Menentukan tinggi timbunan
berdasarkan nilai q
H = q / γtimb
= 5,428 t/m2
/ 1,8 t/m3
= 3,016
meter
Menentukan Tahapan
Penimbunan
Didapatkan Hcr untuk SF
= 1.7, Hcr = 5,4 meter. Dari data sebelumnya didapatkan :
Hinisial = 9,307
meter, Kecepatan pentahapan penimbunan = 50 cm/minggu satu
tahap
Maka tahapan penimbunan yang
dibutuhkan sebanyak :
n = 9,307/0,5
= 18,6 = 18 tahap
Karena
tinggi timbunan maksimum yang mampu diterima tanah adalah 5,4 meter, maka untuk
tahap 1 sampai dengan 10 dapat terus ditimbun tanpa adanya penundaan.
Minggu ke-11 :
Htotal
= 5,5 meter > Hcr = 5,4 meter
Cek
daya dukung tanah dasar
Menentukan tahapan penimbunan hingga
minggu ke-10
1. Menentukan tahapan penimbunan hingga
minggu ke-11
Tabel 4.20 Tahapan
Penimbunan

2. Menghitung tegangan di tiap lapisan
tanah ntuk derajat konsolidasi 100%
dimana
:
q =
Htimb tahap ke-i x γtimb
= 0.5 x 1,8 ton/ m2
=
0,9 ton/m2
Tabel 4.21 : Perubahan Tegangan di Tiap Lapisan Tanah pada
Derajat Konsolidasi, U=100%

3. Menghitung
penambahan tegangan efektif akibat beban timbunan apabila derajat konsolidasi
kurang dari 100%.

Tabel 4.22 Hasil perhitungan derajat konsolidasi untuk pola pemasangan PVD segitiga dengan spasi 2 meter
Tabel 4.23 Perumusan Perubahan Tegangan di Tiap Lapisan
Tanah pada Derajat Konsolidasi

Tabel 4.24 : Perubahan Tegangan di Tiap Lapisan Tanah
pada Derajat Konsolidasi, U<100%

4. Menghitung
kenaikan daya dukung tanah (akibat kenaikan harga Cu)

Tabel 4.25 : Perubahan Nilai Cu pada Minggu ke-10
Analisa Stabilitas
Terhadap Sliding
Analisa stabilitas pada
perencanaan ini dikerjakan dengan menggunakan aplikasi/software Geo Slope 2007.
Analisa ini dilakukan agar dapat diketahui angka keamanan atau safety factor
saat pelaksanaan penimbunan dilakukan.
Berikut ini adalah hasil
yang didapat dengan menggunakan software Geo Slope dengan metode Bishop

Berdasarkan analisa
stabilitas, kemiringan slope 1:2 timbunan mengalami kelongsoran dengan angka
keamanan paling kritis yaitu 1,723 (Bishop Method).
Perhitungan Tanggul
(Shore Protecton)
Fungsi utama dari tanggul
(Shore Protection) adalah untuk melindumgi material reklamasi dari gangguan
arus dan gelombang. Diasumsikan tinggi gelombang kritis untuk bongkar muat
barang di kolam pelabuhan yaitu, 0,5 – 10 m. Sudut kemiringan direncanakan 1:2.
Sesuai dengan desain
kriteria, maka harga parameter-parameter dalam perhitungan tanggul adalah
sebagai berikut :
-
Berat jenis armour (γr) = 2,5 t/m3
-
Sudut Kemiringan = 1:2
-
Berat jenis air laut = 1,025 t/m3
-
KD = 2,
koefisien lapis KΔ = 1,15 Sedangkan koefisien posrositas 37
-
Tinggi gelombang rencana
(HS) = 2,45 meter

6.
PENUTUP
6.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dan analisis pada bab-bab
sebelumnya dalam perhitungan ini didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut
:
1. Elevasi
akhir timbunan yang direncanakan adalah 8,8 meter.
2. Tinggi
timbunan awal yang dibutuhkan adalah sebesar 9,130 meter dengan besar
pemampatan yang harus dihilangkan sebesar 0.552 meter.
3. Waktu
yang dibutuhkan untuk pemampatan sebesar 0,552 m dan mencapai derajat
konsolidasi 90% adalah 9.22 tahun.
Dengan lama waktu
tersebut, maka dibutuhkan percepatan konsolidasi dengan memasang pre-fabricated Vertical Drain (PVD).
4. PVD (Prefabricated
Vertical Drain)
Jenis PVD yang digunakan pada
perencanaan ini adalah Ccteau Drain CT-D812 produksi PT. Teknindo Geosistem
Unggul dengan spesifikasi:
- weight = 70 g/m
- width = 100 mm
-
thickness = 3 mm
-
Formasi = Segitiga
5.
Penimbunan dilakukan bertahap dengan kecepatan penimbunan 50 cm/minggu. Apabila dibutuhkan
ketinggian timbunan
adalah 8,8 m, maka diperlukan 18 kali penahapan penimbunan.
6.2
Saran
Dilihat
dari kesimpulan di atas, jika suatu saat
nanti kebutuhan bongkar muat barang di pelabuhan Trisakti sangat tinggi, maka
dapat dibuat area tambahan untuk lapangan peti kemas, dengan cara reklamasi.
Dengan
cara reklamasi tentunya tidak perlu melakukan pengalihfungsan lahan yang sudah
ada, dan reklamasi sendiri tidak akan menghilangkan mata pencaharian masyarakat
setempat 100%, karena hanya sebagian kecil saja daerah reklamasinya. Sehingga
masyarakat setempat tidak perlu khawatir akan mata pencahariannya, terutama
para nelayan dan penambak ikan, begitu juga terhadap ekosistem yang ada di laut
sebelumnya. Dan yang terpenting dengan adanya reklamasi bertujuan mengurangi
penggusuran masyarakat di daerah setempat.
Daftar Pustaka
1.
Bowles, J.E. 1984. Physical and Geotechnical Properties of Soils, 2nd ed.
McGraw-Hill.NY.
2.
Das, Braja M. 1985. Mekanika Tanah 1 (Prinsip-Prinsip Rekayasa Geoteknis).
Diterjemahkan oleh Noor Endah dan Indrasurya B.Mochtar. Jakarta. Erlangga.
3.
Das, Braja M. 1985. Mekanika Tanah 2 (Prinsip-Prinspi Rekayasa Geoteknis).
Diterjemahkan oleh Noor Endah dan Indrasurya B.Mochtar. Jakarta. Erlangga.
4.
Das, Braja. M. 2008. Advanced Soil Mechanics, 3rd Edition. New York: Taylor and
Francis
5.
Das, Braja. M. 2008. Principles of Geotechnical Engineering, 7th Edition.
Stamford: Cengage Library
6.
Government of India Ministryof Railways. 2004. Prefabrecated Vertical PVC
Drainage System for Construction of Embankment on Compressible Soft Soil.
India: Government of India Ministryof Railways
7.
Mocthar, Indrasurya B. 2000. Teknologi Perbaikan Tanah dan Alternatif
Perencanaan Pada Tanah Bermasalah (Problematic Soil). Surabaya. Jurusan Teknik
Sipil FTSP ITS.
8.
Pedoman perencanaan tata ruang kawasan reklamasi pantai peraturan menteri
pekerjaan umum no.40/prt/M/2007
9.
Teknindo Geosistem Unggul
10.
Wahyudi, Herman. 1997. Teknik Reklamasi. Surabaya: ITS.
11.
Yuwono, Nur, Prof. Dr. (UGM) dan Kodoatie, Robert J. (Undip), 2004. Pedoman
Pengembangan Reklamasi Pantai Dan Perencanaan bangunan Pengamannya. Direktorat
Bina Teknik, Ditjen Sumber Daya Air Dep Kimpraswil (7 Buku Jumlah halaman 374),
Desember.
Jurnal Perencanaan Reklamasi
Reviewed by reggy surya anjasmara
on
July 06, 2017
Rating:
Reviewed by reggy surya anjasmara
on
July 06, 2017
Rating:





No comments
Post a Comment